top of page

Mengapa Kamu Bisa menyukai Orang Yang Dulunya Tidak Kamu Sukai?

Writer's picture: Aldridge TjiptarahardjaAldridge Tjiptarahardja


#EssentialRelationship | Durasi baca: 7 menit


Kalau kamu pernah atau sedang berpacaran dengan orang yang dulunya kamu tidak suka, berarti kamu pernah mengalami cognitive dissonance.


Tolong diingat lagi, dulu kamu B aja saat pertama kali bertemu dia. Kamu pernah mager diajak kencan. Kamu pernah tidak nyaman diajak ngobrol. Atau bahkan, kamu dulu benar-benar muak sama dia. Tetapi angin berhembus berganti arah, kamu ended up dipelukannya. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana. Tetapi apakah yang lebih penting daripada jawaban? Tulisan ini akan menyadarkanmu pentingnya proses terbentuknya perasaan dan keresahan dengan harapan yang juga akan membantumu di aspek-aspek kehidupanmu lainnya.


Dalam psikologi, attitude adalah sikap/tendensi untuk mengevaluasi sesuatu (seseorang) dengan cara tertentu. Ada 3 components of attitude:

1. Cognitive Component: perutmu lapar, cognition-mu mengatakan bahwa dengan makan kamu akan menyelesaikan kelaparanmu

2. Affective Component: di antara semua makanan, kamu punya affection terhadap nasi pecel

3. Behavioral Component: behavior-mu menyeret kakimu ke dan mengonsumsinya



Dalam ilustrasi ini, 2 komponen pertama (cognitive dan affective) berhasil membuahkan behavior yang menyeret kakimu ke penjual pecel dan mengonsumsinya. Semua komponen berjalan selaras dan konsisten, pikiran pun adem. Oh, andaikan dunia sesederhana ini. Dulu para akademis mempercayai bahwa tindakan timbul dari hasrat. Nyatanya TIDAK.


Cognitive dan affective component berjalan selaras. Kamu butuh makan dan mengidamkan pecel TETAPI karena kamu bergaul dengan kaum bourgeoius, kamu mengikuti mereka ke restoran prestis, kamu memesan bistik. Kamu merasa tidak nyaman karena adanya peperangan di dalam batinmu. Terdapat jarak di antara affection dan behaviour yang menghasilkan perasaan tidak nyaman yang dinamakan Cognitive Dissonance.



Menurut teori, Cognitive Dissonance tidak akan bisa hilang dengan sendirinya. Lantas mengapa kita bisa menyukai orang yang dulunya kamu tidak suka kencan bersama? Jawabannya simple, kamu pelan-pelan menyukainya.


Hanya ada dua kemungkinan:

A. Affection mengikuti Behaviour: Affection-mu dipaksa bertumbuh untuk menutup jarak ketidak nyamanan. Biasanya diawali dengan ungkapan, "Dijalani dulu aja de", diakhiri dengan konklusi, "Ternyata dia OK juga kok". Dasar bucin, inget, dulu lu ga suka ;)

B. Behaviour mengikuti Affection: Behavior-mu menjauhinya karena kamu tidak ada affection terhadap dia yang ditandai dengan respon seperti "Males ah, ga demen."



Tahukah kamu, pertanyaan judul tulisan ini sudah dijawab oleh pepatah Jawa, Witing Tresno Jalaran Soko Kulino, yang berarti cinta datang karena terbiasa. ASIK. Jadi selain Components of Attitude (cognitive dan affective), faktor yang mempengaruhi Behaviour adalah: subjective norms (image kita saat memilih makan pecel dan dilihat orang lain) dan perceived behaviour control (pengendalian diri untuk tidak mengonsumi pecel karena diet). Dan perlu diingat juga, behaviour juga bisa mengubah affection


Teori ini simple dan sudah kita sadari secara tidak langsung. Tulisan ini diharpakan menyadarkan kita terhadap proses di dalam alam bawah sadar kita (subconscious mind). Akan sangat disayangkan jika teori ini hanya membantu menyadari proses terjalinnya hubungan asmara. Cognitive dissonance is everwhere, terjadi dalam konsumerisme kita yang dipengaruhi oleh Artificial Intelligence (AI), kepatuhan kita terhadap kebijakan yang dipengaruhi oleh propaganda, dan bahkan keyakinan iman kita yang dipengaruhi oleh pemuka agama. Selalu ingat, #KritisBolehBodohJangan. Preach!




References:

  • Attitudes and Behavior in Psychology - Kendra Cherry https://www.verywellmind.com/attitudes-how-they-form-change-shape-behavior-2795897

  • Components of attitudes - Khan Academy https://www.youtube.com/watch?v=XJdE7awhJg0

  • The Psychology Book - DK Penguin Random House

57 views0 comments

Recent Posts

See All

Comments


Post: Blog2_Post

Subscribe Form

Thanks for submitting!

  • Instagram

©2021 by The Essentialism. Proudly created with Wix.com

bottom of page