Disclaimer: tidak berbicara mengenai agama apapun secara spesifik

Janji manis kehidupan akhirat yang diajarkan di berbagai agama memang terdengar sangat comforting. Jika kamu percaya kenikmatan surgawi itu melebihi dari apapun yang duniawi, mengapa kamu yang suka mengejar kenikmatan tidak menginginkan kematian dengan cepat? Mungkin beberapa dari kamu yang enggan mati sekarang sadar bahwa ada beberapa kenikmatan duniawi yang tidak bisa disuguhkan oleh surga.
Percaya tidak percaya, menurut Pew Research Center, 96 persen orang Indonesia mengakui keberadaan Tuhan. Hampir semua agama yang diakui di Indonesia sepakat akan adanya akhirat atau afterlife, sekalipun bentuknya berbeda-beda. Hampir sebagian besar mempercayai adanya hukuman di salah satu sisi akhirat yang jelek. Dan sebaliknya, ada kepuasan abadi di sisi yang berbeda. Kepuasan inilah pemberian Maha Kuasa yang konon katanya dapat mengalahkan lapar dahaga, hasrat bercumbu, dan haus kekuasaan. Banyak orang beragama namun berapa yang mempertanyakan kenikmatan macam apa yang HANYA bisa didapatkan di dunia?
1. Guilty Pleasure

Contoh paling ekstrim dapat dilihat dalam dinamika emosi Patrick Bateman dalam American Psycho (2000). Kenikmatan dan perasaan bersalah melebur menjadi satu. Mungkin ini disebabkan oleh evolusi otak manusia yang terlalu cepat atau evolusi yang terjadi tidak secara keseluruhan. Apapun penyebabnya, kamu juga sering menikmati ini saat bablas shopping karena lapar mata dan makan kekenyangan karena kerakusan.
2. Toxic Relationship

Hubungan toxic dipentaskan dengan sempurna oleh Joe dan Love di serial You (2018 - sekarang). Beberapa orang suka banget menikmati kesengsaraan. Banget, ya, pake banget. Oxymoron ini patut diingat saat kamu sedang kelelahan menasihati temanmu untuk mengakhiri hubungan yang tidak sehat dengan pasangannya. Percayalah, tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Demikian kenikmatan dalam kesengsaraan bukanlah hal yang baru dewasa ini. Sudah ada sejak dulu, hanya saja namanya yang bukan toxic dan bucin, melainkan wabi sabi dan yin yang.
3. Play Victim

Ini adalah roleplay di panggung dunia yang tak kalah nikmatnya. Seperti toxic relationship, hanya saja ini tidak menitikberatkan dalam hubungan melainkan peran. Banyak yang lebih gemar memposisikan dirinya sebagai korban daripada pihak yang netral, seperti Amy di film Gone Girl (2014). Di satu sisi, tendensi kita untuk memilih peran korban dipicu oleh intensitas film yang mempertontonkan plot climax atau zero-to-hero. Ya, cocok dengan teori hyperreality-nya Jean Baudrillard: film dianggap lebih real daripada keseharian kita yang anti-climax. Ini membuat kita secara tidak sadar haus akan persoalan yang dramatis di dunia.
4. Kepuasan Balas Dendam

Ghost Rider, Batman, dan Gladiator, what do they have in common? Vengeance. Banyak yang mampu melakukan hal yang heboh nan luar biasa hanya didasari oleh hasrat balas dendamnya, seperti Johnny Blaze, Bruce Wayne, dan Maximus. Beberapa orang beragama mempercayai pembalasan adalah hak Tuhan yang maha adil atau karma. Tetapi tidak bagi beberapa orang yang menyimpan luka. "Mumpung sama-sama di dunia", pikir mereka.
5. Menang Kompetisi

Di antara semua poin, mungkin inilah yang dinikmati paling banyak secara tidak sadar oleh penganut agama yang enggan mati. Di beberapa agama, surga digambarkan sebagai tempat yang egalitarian, kesetaraan bagi semua penghuninya. Bagi saya yang belum pernah ke surga, saya sering bertanya: jika semua happy, akankah ada happiness di sana? Hanya dunialah yang menyuguhkan kesenangan saat kita melihat orang lain kesusahan. Dengan adanya zero-sum game, kepuasan akan kemenangan dalam kompetisi dapat dirasakan dengan jelas. Hanya dunia yang mampu menyeleksi pemenang. "Karna jika semua menang, tidak akan ada yang namanya pemenang.", ujar dunia.
Semoga tulisan ini membawamu ke kesadaran yang lebih tinggi. Banyak hal positif yang masih bisa dilakukan di dunia ini. Hai, kamu, yang percaya akhirat, kalau mau happy-happy, bukan di sinilah tempatnya. Live essentially, not happily.
Preach
Comments