
Kamu yakin tidak ter-brainwash film-film mainstream? Banyak film yang mempengaruhi persepsi kita. Pengaruh dapat dilihat di Captain America dan Superman dengan kostum bendera Amerika yang seakan menopang beban tanggung jawab yang besar yaitu melindungi seluruh umat manusia. Memang tidak ada yang salah. Namun pernahkah kita mempertanyakan efek samping dari menonton film tersebut? Penyuguhan moralitas hitam-putih yang tidak realistis menumpulkan kemampuan berpikir kritis kita. Tulisan ini mengilustrasikan kekeruhan pikiran yang disebabkan oleh eksposur film dengan moralitas yang hitam-putih.
"Film Indonesia sering kali menyelesaikan ketegangan itu melalui tokoh dengan pilihan moralitas absolut: bak-jahat, tradisonal modern, pahlawan-bajingan, ... "
Hadiz and Yasih, Majalah Tempo Bagian Kolom Edisi 9-15 Agustus 2021
Beberapa hal perlu diingat untuk menjaga ketajaman pikiran kita. Pertama, film adalah cuplikan dari kisah atau sejarah yang panjang. Jarang sekali yang menampilkan kesengsaraan superhero sebagai veteran seperti Wolverine dan Professor X dalam Logan (2017). Kedua, propaganda menampilkan sentimen terhadap negera komunis masih saja ditamplikan seperti Captain America: The First Avenger (2011), Olympus Has Fallen (2013), dan bahkan Star Wars (1977-sekarang). Apa bedanya film tersebut dengan film propaganda Pearl Harbor (2001)? Ketiga, industri film hanya menitikberatkan "kebaikan" pada satu sisi atau satu protagonis saja. Poin ketiga yang akan dibahas di tulisan ini dengan contoh film dari moralitas mainstream sampai gejolak batin.
"Wakanda forever" terdengar sama seperti seruan nasionalis "Merdeka atau mati." Dalam Black Panther (2018), T'Challa yang seharusnya sudah sah kalah dalam ritual duel dengan Killmonger mengotot mengambil alih mahkota Black Panther dengan military coup. Dalam film dengan moralitas mainstream, sifat pemberontakan protagonis sangatlah jarang dipertanyakan. Sifat durhaka T'Challa ini dikaburkan oleh "Wakanda forever", seruan nasionalisnya. Film mengabaikan peraturan yang dilanggar oleh T'Challa untuk "kebaikan" menurutnya. Film sejenis ini sangat mudah meraih popularitas karena easy-to-watch. Kemudahannya untuk dicerna menarik perhatian generasi tua sampai muda. Hati-hati dengan film sejenis dengan plot populer nan dangkal.
Di Avengers Infinity War (2018), penonton mulai sedikit mempertanyakan moralitas yang mainstream. Sedikit mulai mempertanyakan motivasi antagonis (Thanos) yang berseberangan dengan protagonis (The Avengers). Dapat ditonton, Marvel menampilkan komitmen Thanos. Ia menggunakan kekuatan Infinity Gauntlet untuk sustainability universe menurut ideologinya sekalipun dia bisa saja menyalahgunakan kekuatan untuk menguasai semesta. Ironi nampak di kehidupan pensiun Thanos di Endgame (2019). Villain terkuat yang mempersatukan Avengers bukanlah yang haus kekuasaan atau destruktif seperti pada umumnya. Malahan adalah figur bapak yang mengorbankan anaknya dan (mungkin) karakternya untuk memperjuangkan kepercayaan yang berbasis sustainability. Penonton tidak terlalu peduli dengan moralitas karena film ini didesain untuk keseruan perang universe. Terlepas dari itu, cobalah put yourself in villain's shoes.
Dilema moral semakin terlihat dari awal seri Star Wars. Kecewa karena melihat Jedi yang main hakim sendiri, Anakin berpindah sisi ke Dark Side bersama Palpatine. Nampak, Dark Side berusaha menghindari konflik dengan mengulurkan tangannya literally: Darth Vader kepada Luke di Empire Strikes Back (1980) dan Kylo Ren kepada Rey di The Last Jedi (2017). Banyak sekali film sejenis ini yang mengusung tema revolusi, seperti The Lord of The Rings Trilogy, tetapi jarang yang menampilkan Yin-yang (secercah kebaikan dalam kejahatan dan sebaliknya). Memang, Star Wars patut digolongkan film dengan moralitas non-hitam-putih karena menampilkan dialektika secara eksplisit dalam balance of forces. Namun karena tema revolusinya, sentimen terhadap komunisme masih tidak dapat dipungkiri.

Naik ke bobot yang lebih berat, Christopher Nolan menggugah moral dilema penonton dalam karyanya, Batman Begins (2005). Di ujian terakhir Ra's al Ghul, Bruce Wayne bersikeras untuk tidak membunuh penjahat yang tertangkap karena kasus pembunuhan. Di sinilah peperangan batin Batman terjadi ketika dia diberi kesempatan untuk membunuh kriminal untuk menghindari potensi kerusakan. Dilema diperkuat di The Dark Knight (2008) saat Joker memberikan banyak kesempatan kepada Batman untuk membunuhnya. Nolan sukses memelekkan penonton dari kekaburan moralitas dengan menampilkan realita dilema moral yang kita hadapai tanpa mengurangi dramatisasi. Film ini bebas dari sentimen moralitas hitam-putih dan, mungkin, dari propaganda juga.
Last but not least, tidak ada alur cerita yang menyuguhkan turbulensi batin sekuat Attack On Titan (2015-sekarang). Jika Star Wars menayangkan kompleksitas dengan berulang kali menukar peran protagonis dengan antagonis (contoh: Finn yang semula stormtroopers mengikuti Rebels, Anakin yang semula jedi mengikuti Dark Side), Attack On Titan melakukannya dengan menambah sudut pandang tanpa menukar peran. Eren Yeager, protagonis yang konsisten, tidak hanya membantai musuh negaranya yang awalnya dipikir makhluk raksasa Titan saja, tetapi juga ternyata bangsa lain yang berkonspirasi mengroyok kaumnya. Untuk melindungi negaranya, Eren terlihat kelepasan dengan nafsu membunuhnya. Serial menampilkan pembantaiannya yang sadis menelan korban penduduk sipil bangsa lain. Sekalipun ini perbandingan yang tidak adil (durasi serial yang panjang tidak bisa dibandingkan dengan film lepas di atas), cerita ini layak mendapatkan juara satu dalam kenetralan moralitas. Kebalikan dari pada umumnya, pengarang menyerahkan penilaian moralitas kepada penonton.

Dapat disimpulkan, terdapat banyak film yang menganut plot dan perspektif seperti Captain America dan Superman yang mementaskan moralitas hitam-putih yang diperkuat propaganda negara. Eksposur film dengan moralitas mainstream yang berlebihan akan menumpulkan kemampuan kritis kita. Setidaknya ilustrasi seperti Attack On Titan, Batman Trilogy, dan Star Wars yang lebih realistis dalam menampilkan konflik batin. Mereka mengingatkan kamu akan pentingnya critical thinking. Jangan lengah. Sasageyo!
Sasageyo!